Pendidikan adalah upaya sadar untuk mempersiapkan peserta didik menghadapi perannya di masa depan melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau pelatihan. Pendidikan pada hakikatnya bertujuan untuk mengembangkan potensi diri seseorang dan bertujuan mencapai tujuan yang diharapkan yaitu menjadikannya manusia seutuhnya. Penguatan potensi peserta didik bertujuan untuk mengembangkan karakter pribadinya agar dapat menjadi individu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang disekitarnya. Sebagai lembaga moral, sekolah merupakan miniatur dunia yang memberikan kontribusi terhadap perkembangan budaya, nilai, dan moral setiap siswa. Perilaku warga sekolah yang menjunjung tinggi penerapan nilai-nilai yang diyakini dan dianggap penting oleh sekolah, menjadi teladan bagi siswa. Seorang pendidik harus mampu menjadi teladan bagi anak didiknya. Hal ini tercermin dalam perilakunya sehari-hari, sehingga seorang pendidik juga dapat menjadi teladan bagi peserta didik dan seluruh warga sekolah di lingkungan hidupnya.

Dalam menjalankan peran kita sebagai pendidik harus mampu memberikan saran kepada peserta didik, dan dalam setiap keputusan yang diambil kita harus memihak peserta didik berdasarkan nilai-nilai kebajika. Guru harus bisa menyadari bahwa setiap keputusan yang diambil mencerminkan integritas sekolah dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi dan keputusan yang diambil nantinya akan menjadi acuan atau contoh bagi seluruh warga sekolah dan lingkungan. Oleh karena itu, seorang pendidik senantiasa berupaya untuk menanamkan karakter dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kebajikan universal dan memperhatikan kebutuhan setiap peserta didik.

Hal ini sejalan dengan kalimat bijak berikut:

Education is the art of making man ethical. Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis. ~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel ~

Memahami ungkapan tersebut, pendidikan adalah suatu proses coaching peserta didik dengan cara memantapkan budi pekerti dan standarnya agar menjadi generasi yang dibekali dengan nilai-nilai moral, kebajikan dan kebenaran dalam menjalani kehidupannya. Generasi mendatang merupakan cerminan pendidikan saat ini sehingga kita harus berupaya menciptakan karya terbaik yang akan membentuk negeri ini di masa depan.

Setelah kita memahami beberapa hal diatas, berikut adalah pendekatan atas tinjauan dari koneksi antar materi pada modul 3.1 Pendidikan Guru Penggerak tentang pengambilan keputusan.

  1. Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka mempengaruhi bagaimana seorang guru mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Motto yang diusung oleh KHD yang masih menjadi landasan bagi para pendidik adalah Ing Ngarso Sung Tulodho (Seorang pemimpin harus mampu memberi keteladanan), Ing Madya Mangunkarsa (Seorang pemimpin juga harus mampu menimba ilmu untuk memberikan semangat, semangat. dan motivasi dari tengah), Tut Wuri hadayani (Seorang pemimpin harus mampu memberi semangat dari belakang), artinya seorang pemimpin (guru) harus mampu memberi contoh dan memberikan dorongan dan motivasi instruksional dari tengah serta mampu untuk memberikan dorongan dari simpanan kemajuan siswa. Motto ini mempunyai makna yang dalam dan dapat kita gunakan sebagai landasan dalam mengambil keputusan apapun, yaitu dalam mengambil keputusan. Hal ini dapat kita lakukan dalam proses pembelajaran di sekolah, tidak hanya terfokus pada isi kurikulum saja namun ada transfer nilai kebajikan dalam setiap pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

  1. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Karakter seseorang terkadang merupakan cerminan dari nilai-nilai yang tertanam dalam dirinya sehingga mempengaruhi prinsip-prinsip yang digunakan seseorang dalam mengambil keputusan. Demikian pula dalam proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, keterampilan kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial dan keterampilan menjalin relasi akan memberikan dorongan moril dan materiil kepada seluruh warga sekolah. Nilai kejujuran dan integritas sebagai seorang pendidik akan tercermin dalam keteladanan dan pedoman dalam setiap pengambilan keputusan.

  1. Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan coaching (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi coaching yang telah dibahas pada sebelumnya.

Dalam pengambilan keputusan dibutuhkan langkah-langkah yang mengacu pada prinsip tertentu, karen dalam pengambilan keputusan berkaitan erat dengan masa depan suatu organisasi, apalagi menyangkut pada keputusan yang sifatnya strategis. Salah satu faktor yang sangat membantu dalam pengambilan keputusan adalah keterampilan coaching. Sebagai pendidik, guru harus memiliki keterampilan coaching. Selama proses pembelajaran, pendampingan dalam pengujian pengambilan keputusan melalui kegiatan coaching (bimbingan) yang dilakukan oleh  fasilitator saya rasakan sangat efektif dalam membantu pemahaman saya.

Beberapa contoh praktik coaching dapat memberi gambaran yang utuh untuk dapat diterapkan di sekolah. Keputusan yang diambil dengan teknik coaching yang berlandaskan etika, nilai-nilai kebajikan, sesuai dengan visi misi sekolah yang berpihak pada murid dan menciptakan budaya positif dilingkungan sekolah. Teknik coaching dilakukan denga prinsip kesetaraan, sehingga tidak terkesan menggurui tapi justru akan menimbulkan rasa nyaman  sehingga coach, sehingga mampu mengidentifikasi permasalahan dan dapat menyampaikan pertanyaan berbobot dari coachee. Begitu pula dengan coachee yang dengan rasa nyaman dapat menyampaikan hambatan — hambatan dan dapat menemukan solusi yang sesuai. Hal ini karena coach mampu menjadi pendengar yang baik sehingga mampu membantu menguraikan permasalahan melalui pertanyaan-pertanyaan berbobot.  Dengan coaching, guru dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi siswa dalam proses pembelajaran. Sebagai coach yang baik guru memiliki harapan terhadap siswanya sehingga dapat menjalankan seluruh tugas dan kewajiban yang diberikan di sekolah dengan baik.

Pengambilan keputusan memerlukan langkah-langkah yang berkaitan dengan prinsip-prinsip tertentu karena pengambilan keputusan sangat erat kaitannya dengan masa depan suatu organisasi, terutama jika menyangkut keputusan-keputusan strategis. Keterampilan coaching merupakan faktor yang sangat berguna dalam pengambilan keputusan. Sebagai pendidik, guru harus mempunyai keterampilan pembinaan. Selama proses pembelajaran, saya merasakan dukungan dalam menguji pengambilan keputusan melalui kegiatan coaching yang dilakukan oleh fasilitator sangat efektif dalam meningkatkan pemahaman saya.

Beberapa contoh praktik coaching dapat memberikan gambaran utuh yang dapat diterapkan di sekolah. Keputusan yang diambil dengan teknik pembinaan didasarkan pada etika dan nilai-nilai yang baik serta sejalan dengan visi dan misi sekolah, yaitu mendukung siswa dan menciptakan budaya positif di lingkungan sekolah.

  1. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosional sangat mempengaruhi dalam pengambilan keputusan. Dalam setiap pengambilan keputusan wajib berlandaskan pada nilai-nilai kebajikan  serta regulasi yang ada dengan berpedoman pada 9 langkah pengambilan keputusan. Melalui kedua dasar tersebut kita dapat menganalisis sehingga dapat membedakan antara dilema etika atau bujukan moral.

Kepekaan sosial emosional seseorang akan menumbuhkan empati dan simpati dalam menempatkan diri dan mengenal orang lain . hal ini mampu membuat kita dapat merasakan apa yang peserta didik alami, sehingga kita dapat mengidentifikasi permasalahan dengan bijaksana. Dalam setiap keputusannya harus mempertimbangkan banyak utamanya keberpihakan pada murid, berbasis etika dan nilai kebajikan berlandaskan pada 4 paradigma, 3 prinsip, dan dilakukan dengan 9 langkah pengmbilan keptusan.

  1. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Pembahasan studi kasus yang berfokus pada masalah moral atau etika akan semakin mengasah empati dan simpati seorang pendidik yang  diharapkan mampu mengidentifikasi dan memetakan paradigma dilema etika agar pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran lebih bijak. Bentuk kebijakan pada pengambilan keputusan harus mengacu keberpihakan dan mengutamakan kepentingan murid. Pendidik perlu belajar menganalisis permasalahan dari berbagai sudut pandang dan pendidik, sehingga mampu membedakan apakah permasalahan yang dihadapi termasuk dilema etika ataukah bujukan moral.

  1. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Keputusan yang kita ambil secara langsung maupun tidak langsung akan berdampak padakegiatan pembelajaran dan suasana sekolah. Setiap keputusan perlu  berlandaskan nilai-nilai kebajikan, keteladanan, bijaksana dan tidak melanggar norma sehingga mampumenciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Melalui hal ini diharapkan peserta didik dapat belajar dengan baik dan dapat mengembangkan kompetensinya.

  1. Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Tantangan yang saya hadapi dalam pengambilan keputusan terhadap kasus — kasus yang sifatnya dilemma etika adalah perasaan tidak enak yang timbul karena tidak dapat memuaskan semua pihak. Namun dengan mengikuti 9 langkah pengambilan keputusan dapat meminimalkan perasaan tidak nyaman dan keputusan yang saya ambil dapat diterima oleh semua pihak. Elai itu juga perlu dipertimbangkandampak yang akan muncul beserta solusinya.

  1. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Dampak dari keputusan yang kita buat dengan pengajaran yang berpusat pada murid. Pada dasarnya murid bebas untuk sukses dan bahagia sesuai kodratnya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari pihak manapun. Harapannya, murid akan meraih sukses di bidangnya masing-masing, bahagia karena sesuai dengan keinginannya dan bertanggung jawab atas keputusannya. Dengan menggunakan model pembelajaran berdiferensiasi kebutuhan setiap siswa diperhitungkan sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Guru berperan sebagai fasilitator dan pembelajarannya berpusat pada murid. Didukung dengan penerapan KSE maka akan semakin memperkuat dan mempertajam peningkatan keterampilan sosial dan emosional murid.

  1. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Keputusan yang diambil oleh seorang pemimpin pembelajaran akan berdampak jangka panjang dan jangka pendek bagi murid. Apa yang kita putuskan dan lakukan dicatat dan menjadi model tentang apa dan bagaimana siswa akan berpikir dan bertindak di masa depan. Hal  tersebut menjadi landasan bahwa pengambilan keputusan seorang pendidik harus tepat, benar dan bijaksana melalui pengujian yang cermat.

  1. Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan akhir yang saya peroleh dari pembelajaran materi ini dan keterkaitannya dengan modul sebelumnya bahwa pengambilan keputusan merupakan suatu kompetensi atau ketrampilan yang harus dimiiki oleh guru sebagai pendidik. Terkait dengan tugas dan fungsinya seorang guru dalam membuat keputusan harus berlandaskan pada filosofi Ki Hajar Dewantara, karena setiap keputusan yang diambil akan mewarnai pola pikir dan karakter murid. Agar keputusan yang diambil dapat memberikan kemanfaatan untuk banyak orang, mampu mengantarkan pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well being) dan dapat dipertanggungjawabkan, maka harus dilakukan berdasarkan pada budaya positif dan menggunakan alur yang tertata seperti BAGJA. Hal ini dilakukan semata untuk menghantarkan murid menuju profil pelajar pancasila, yang dalam perjalanannya banyak benturan yang sifatnya dilema etika dan bujukan moral. Untuk itu diperlukan panduan sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan, sehingga langkah yang diambil selalu berpihak kepada murid.

Kesimpulan akhir yang saya ambil dari mempelajari materi ini dan hubungannya dengan modul sebelumnya adalah pengambilan keputusan merupakan suatu keterampilan atau bakat yang harus dimiliki oleh guru sebagai pendidik. Adapun tugas dan fungsi sebagai seorang guru harus berlandaskan pada filosofi Ki Hajar Dewantara dalam mengambil keputusan.  Agar keputusan yang diambil bermanfaat bagi banyak orang, mengarah pada lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman serta dapat dipertanggungjawabkan, maka keputusan tersebut harus diambil berdasarkan budaya positif dan proses yang sistematis. Hal ini bertujuan agar murid  memiliki profil pelajar Pancasila yang rentan mengalami konflik berupa dilema etika dan keyakinan moral.

  1. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Hal-hal yang menurut saya diluar dugaan bahwa ternyata dalam mengambil keputusan bukan hanya didasarkan pada pemikiran dan pertimbangan saja, namun perlu memperhatikan paradigma, prinsip, dan langkah-langkah sistematis dalampengujian pengambilan keputusan. Hal ini bertujuan agar keputusan yang diambil efektif dan bermanfaat untuk orang banyak. Disamping itu secara personal, dalam pengambilan keputusan diperlukan satu sikap keberanian dan ketegasan dengan segala dampak yang mungkin mengiringinya.

  1. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilemma etika? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Sebelum mempelajari modul ini saya pernah mengambil  keputusan dengan situasi dilema etika,. Pada saat itu, yang saya lakukan hanya sebatas pada pemikiran didukung dengan beberapa pertimbangan dan data saja. Saya sudah merasa aman bila keputusan yang saya ambil sudah sesuai aturan dan tidak berdampak negative bagi banyak orang. Dengan belajar modul ini saya menjadi lebih memahami pengambilan keputusan yang tepat dengan menggunakan langkah-langkah yang memperhatikan paradigma dan prinsip-prinsip.

  1. Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Konsep yang sudah saya pelajari di modul ini memberikan dampak yang besar bagi pola pikir saya. Sebelumnya saya berpikir bahwa pengambilan keputusan yang telah didasarkan regulasi dan sosial saja sudah cukup, ternyata banyak hal yang menjadi dasar. Saya berencana akan mengimplementasikan landasan tersebut dalam setiap pengambilan keputusan baik sebagai pemimpin pembelajaran maupun dalam pengambilan kebijakan di sekolah dan komunitas praktisi.  Dengan landasan dalam pengambilan keputusan tersebut, saya yakin bahwa keputusan yang saya ambil akan tepat dan lebih akurat dengan selalu berpihak pada murid.

Konsep-konsep yang saya pelajari dalam modul ini berdampak besar pada cara berpikir saya. Dulu saya berpikir pengambilan keputusan hanya berdasarkan peraturan dan dampak sosial saja, namun ternyata banyak hal yang mempengaruhinya. Sebagai pemimpin pembelajaran maupun dalam pengembangan kebijakan di sekolah dan komunitas praktik saya perlu belajar bahwa keputusan yang saya ambil adalah benar dan akurat dan saya selalu berpihak pada murid.

  1. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Materi pada modul 3.1 bagi saya sangat penting dan bermakna, karena sebagai pemimpin pembelajar pasti akan menjumpai permasalahan yang dituntut untuk mengambil keputusan. Salah satu upaya untuk mewujudkan hal itu, maka seorang guru harus memiliki keterampilan dalam pengambilan keputusan yang mengandung nilai-nilai kebajikan. Sebagai landasan dalam pengambilan keputusan tersebut tentunya mengacu pada 9 langkah 4 paradigma dan  3 prinsip.

 

6 thoughts on “Koneksi Antar Materi Modul 3.1 : Pengambilan Keputusan

  1. Dengan membaca artikel ini saya mendapatkan banyak informasi terkait dengan pengambilan keputusan. Kesimpulannya artikel ini bagus dan sangat bermanfaat.

  2. Well done. Artikel yang sangat bermanfaat. Mudah di pahami dan menjawab sebagian besar pertanyaan yang selama ini ada dalam diri seorang pendidik terkait dengan pengambilan keputusan. Semoga bisa merubah mind set kami dan para pendidik yang lain untuk selalu menjadikan filosofi Ki Hajar Dewantara sebagai dasar dalam setiap pengambilan keputusan.

  3. Alhamdulillah saya telah mendapat tambahan ilmunya serta wawasan setelah membaca ini karena belajar bukanlah masalah kesempatan, melainkan lebih kepada masalah kemauan. Di mana ada kemauan, insyaallah disitu akan ada jalan menuju kesuksesan.Aamiin…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *