Pemikiran reflektif terkait pengalaman belajar

Awalnya muncul keanehan manakala akan belajar tentang Coaching. Selama ini yang saya tahu istilah “coach” muncul di dunia olahraga yang berarti pelatih, proses training atau mentoring. Namun apa yang saya pelajari mengenai coaching telah mencerahkan saya. Namun, coaching sebenarnya sangat berbeda dengan keduanya, bila training dan mentoring lebih berfokus pada mentor atau trainer, pada proses coaching justru lebih memusatkan perhatian kepada coachee. Pengalaman belajar dalam coaching mengarahkan bagaimana kita mencoba menjadi teman berpikir orang lain, mengesampingkan ego pribadi yang umum terjadi yakni kita seringkali berusaha menjadi pemberi solusi. Dalam coaching kita berusaha tidak menghakimi kawan bicara dan berusaha terampil dalammengasosiasi pengalaman pribadi

Suasana emosi yang sederhana namun sebenarnya luar biasa adalah ketika berusaha menjadi pendengar yang baik, berusaha menyelami permasalahan coachee dan dengan sabar membantunya menemukan opsi-opsi yang berpotensi menjadi solusi. Ada sebuah kebanggaan dan kelegaan saat coachee yang kita temani berhasil menemukan solusi yang bersumber dari refleksi serta idenya sendiri.

Salah satu hal yang telah saya coba pada modul 2.3 ini adalah berusaha  menjadi pendengar yang baik, saya belajar menahan diri agar tidak mengintervensi ide atau potensi solusi yang mungkin muncul dari coachee serta bertahan untuk tidak mengambil kesimpulan hingga akhir sesi. Hal-hal yang masih perlu saya perbaiki adalah bagaimana saya membantu coachee dengan pertanyaan-pertanyaan berbobot, serta menciptakan suasana komunikasi yang nyaman sehingga coachee bisa menceritakan permasalahannya dengan leluasa.

Salah satu ciri khas belajar menjadi coach, peran kita bukan menggurui, namun bagaimana terampil menjadi pendengar yang baik, menghargai semua hal yang disampaikan coachee sesuai melalui sudut pandangnya. Tenyata dengan lebih banyak mendengar  banyak ilmu yang saya dapatkan, bahwa kita perlu mendengar permasalahan orang lain dan belajar darinya bagaimana masalah itu bisa diselesaikan, yang mungkin al itu juga bisa menimpa kita.

Analisis untuk implementasi dalam konteks CGP

Dalam proses menyelesaikan modul 2.3 ada beberapa pertanyaan yang muncul dari dalam diri, seperti: bagaimana Batasan sosial emosional antara coach dan coachee dalam melaksanakan coaching yang efektif? Apakah alur TIRTA dalm realitanya bisa dilaksanakan dengan urutan yang fleksibel mengingat dalam diskusi terkadang cache kelur dari jhalur yang seharusnya disampaikan? Namun, sejalan dengan Latihan yang saya tempuh dan diakhiri dengan eksplorosi konsep saya menjadi semakin memahami coaching. Dalam proses coaching solusi tak selau langsung memperoleh hasil yang diharapkan, terkadang (bahkan sering) waktu lebih lama untuk sampai pada tujuan yang diharapkan. Pertanyaan berbobot juga bukan pertanyaan yang kita siapkan dengan bahasa yang sulit atau membuat coachee berpikir berat, justru berupa ungkapan kesungguhan kita mendengarkan  dan memahami permasalahan coachee yang mendorongnya menemukan solusi.

Keterhubungan dengan Materi Sebelumnya.

. Mulai modul 1.1 saya telah berusaha memahamii filosofi KHD yang luar biasa, lalu menuju modul 1.2 di mana saya dikenalkan dengan nilai nilai guru penggerak dan bagaimana mengembangkan nilai nilai tersebut.  Modul 1.3 saya belajar mengenai visi misi sebuah prakarsa perubahan yang mewadahi tujuan. Hal tersebut mulai diwujudkan dalam modul 1.4 mengenai Budaya Positif. Pada modul 2.1 saya memahami dan mempraktikkan pembelajaran berdiferensiasi, sebuah pembelajaran berusaha mempertebal berbagai “warna” yang ada di kelas. Hal ini diperkuat dengan  modul 2.2 mengenai Pembelajaran Sosial Emosional hingga sampai pada modul ini yaitu 2.3 mengenai Coaching untuk Supervisi Akademik yang mengesankan.

Berdasakan ilmu yang saya dapatkan modul-modul tersebut, saya berusaha menerapkan baik di kelas maupun di sekolah. Beberapa praktik baik mungkin tidak berjalan dengan baik dalam sekali waktu, saya perlu melakukan evaluasi dan refleksi untuk menemukan formula yang tepat. Tuhas tambahan sebagai wakil kepala sekolah bidang kurikulum sebenarnya menjadikan media bagi saya untuk mengimplementasikan berbagai hal yang saya dapatkan. Namun berbagai kegiatan seperti pembagian tugas mengajar yang melibatkan adanya guru pirna di tengah perjalanan datangnya rekan guru PPPK yang cukup banyak membutuhkan energi tersendiri dalam menatanya. Belum lagi hal tersebut selesai, Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila yang melibatkan kelas X dan XI ternya membutuhkan oersipan yang cukup panjang dan serius. Dan di saat kegiatan ini sedang mulai berjalan, Asesmen Nasional sudah menunggu untuk segera dipersiapkan. Dan tentunya berbagai administrasi yang harus dipersiapkan dalam pembelajaran harian serta mendewasakan kami menjadi seorang guru. Dai sini nilai guru penggerak benar-benar membantu saya dalam “mengarungi  kehidupan” sebagai seorang guru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *