IHT SMANSAWUR

Upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dan asesmen terus dilakukan SMA Negeri 1 Wuryantoro. Salah satunya melalui kegiatan In House Training (IHT) Pengembangan Instrumen Asesmen Berstandar Nasional melalui Penyusunan Soal Berorientasi Penalaran yang diselenggarakan pada Jumat, 3 Juli 2026 di Aula SMA Negeri 1 Wuryantoro, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai.

Kegiatan ini menjadi langkah strategis sekolah dalam mempersiapkan guru menghadapi tuntutan asesmen yang semakin menekankan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan penalaran peserta didik. Di tengah perubahan paradigma pendidikan yang tidak lagi berfokus pada hafalan, guru dituntut mampu menyusun instrumen asesmen yang relevan dengan karakteristik Tes Kemampuan Akademik (TKA) maupun Asesmen Nasional (AN).

IHT diikuti oleh seluruh guru SMA Negeri 1 Wuryantoro dengan antusiasme yang tinggi. Menariknya, meskipun beberapa guru sedang menjalani cuti atau memiliki agenda pribadi, mereka tetap berkomitmen hadir untuk mengikuti kegiatan hingga selesai. Hal ini menunjukkan semangat belajar dan dedikasi para pendidik dalam meningkatkan kompetensi profesional demi memberikan layanan pendidikan terbaik bagi peserta didik.

Kepala SMA Negeri 1 Wuryantoro, Yuli Rusmiyanti, dalam pemaparannya menegaskan bahwa penyusunan soal tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga harus memperhatikan kaidah penulisan yang baik dan mampu mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi.

“Soal yang disusun untuk mengarah pada TKA maupun UTBK harus memenuhi kaidah substansi, konstruksi, dan bahasa yang baik. Selain itu, soal perlu dirancang agar mampu mengukur kemampuan penalaran peserta didik, bukan sekadar menguji kemampuan mengingat fakta atau rumus,” ungkapnya.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa kualitas instrumen asesmen menjadi salah satu faktor penting dalam menghasilkan data pembelajaran yang akurat. Oleh karena itu, guru perlu memahami karakteristik soal berbasis stimulus, kontekstual, dan menuntut proses berpikir yang mendalam.

Materi berikutnya disampaikan oleh Retno Widianto, yang menyoroti pentingnya transformasi pola asesmen di sekolah. Menurutnya, guru perlu membiasakan peserta didik menghadapi berbagai bentuk soal penalaran yang menuntut kemampuan menganalisis informasi, mengevaluasi data, serta menarik kesimpulan secara logis.

“Guru perlu memberikan variasi soal penalaran yang mengarah pada TKA. Ke depan, kemampuan penalaran akan menjadi aspek yang sangat penting karena TKA juga berperan sebagai bagian dari pengukuran mutu pendidikan secara nasional,” jelasnya.

Selama kegiatan berlangsung, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teoretis, tetapi juga melakukan praktik penyusunan dan telaah soal sesuai karakteristik asesmen berstandar nasional. Diskusi yang interaktif membuat para guru dapat saling berbagi pengalaman dan memperkaya wawasan mengenai strategi penyusunan soal yang efektif.

Melalui kegiatan ini, SMA Negeri 1 Wuryantoro berharap seluruh guru semakin terampil dalam mengembangkan instrumen asesmen yang valid, berkualitas, dan berorientasi pada penguatan kemampuan penalaran peserta didik. Pada akhirnya, asesmen tidak hanya menjadi alat pengukur hasil belajar, tetapi juga sarana untuk mendorong lahirnya generasi yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan adaptif menghadapi tantangan masa depan.

Komitmen belajar yang ditunjukkan para guru dalam IHT ini menjadi bukti bahwa peningkatan mutu pendidikan selalu diawali dari semangat pendidik untuk terus bertumbuh. Dari aula sekolah pada pagi itu, terpatri satu keyakinan bahwa kualitas pembelajaran yang unggul lahir dari guru yang tidak pernah berhenti belajar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *